PELTI - Persatuan Tenis Seluruh Indonesia
 

Links

Tabloid Tennis

Berita Utama

Cita-cita Rezai No 1 Dunia

Bali, 8 November - Aravane Rezai memiliki cita-cita yang sangat mungkin diraihnya. Sebagai petenis nomor satu dunia. Ketika cita-cita itu dikemukakan di Bali, bukan hal yang mustahil akan tercapai. Petenis Rusia Svetlana Kuznetsova nyaris mewujudkannya. Ia mengawali tampil di lapangan Grand Hyatt Nusa Dua, Bali. Kala itu masih dalam kemasan WTA Tour Wismilak International (Tier III). Setelah menjuarai turnamen Tier III itu, Svetlana langsung melejit dan sempat menempati empat besar dunia. Rezai pun berpeluang sama.

Berangkat ke Bali dengan modal peringkat 44 dan hanya satu gelar yang diraih di Strasbourg tahun ini, Rezai praktis tak diunggulkan. Namun begitu dia tampil, banyak sudah yang menyukainya. Permainannya yang agresif, powerfull dan selalu diikuti dengan lenguhan-lenguhan penuh semangat menjadikan penampilan petenis bertinggi -

berat (165 cm- 62 kg) ini enak untuk ditonton.

Dari hasil undian, Rezai menempati Group D bersama Sabine Lisicki (GER) dan Melinda Czink (Hungaria). Kejutan perdana dia tampilkan saat melibas Lisicki, 1-6, 6-3, 6-4. Selanjutnya dia memastikan juara Grup D dengan mengalahkan Czink, 6-3, 7-5 dan memastikan ke semifinal.

Di babak semifinal, lagi-lagi penampilan petenis yang baru berusia 22 tahun ini membuat kagum penonton di lapangan tertutup Hotel Westi, Nusa Dua, Bali. Dia mengandaskan Maria Jose Martinez Sanchez (Spanyol) dengan skor 6-2, 6-3, yang membawanya ke partai puncak event berhadiah total US$ 600.000 ini.

Di partai puncak, dia justru tampak keteter di babak awal menghadapi rekan senegaranya yang merupakan unggulan teratas di event ini, Marion Bartoli (peringkat 12 WTA). Bahkan, Rezai sempat ketinggalan hingga 3-5 pada set pertama. "Dalam kedudukan itu, saya hanya berpikir untuk fokus bermain sebagaimana permainan saya. Kalau saya

kalah tidak apa-apa, karena dalam pikiran saya dia lebih kuat dari saya. Tetapi saya bertekad harus menang di

final ini," aku Rezai saat berlangsung jumpa pers usai pertandingan.

Tekad yang besar, semangat besar, keberanian besar dan ditambah berfikir positif menjadikan penampilannya luar biasa. Dia tidak hanya mengungguli reli-reli dalam tempo tinggi atas Bartoli, tetapi dia juga menjadi gambaran, bagaimana seharusnya menjadi seorang petenis dunia. Selalu ada kemungkinan untuk menang, betapa pun yang

dihadapi orang yang menurut dia lebih kuat sekali pun. Itulah sebabnya, dia memimpikan untuk menjadi petenis nomor satu dunia.

"Saya menikmati tenis dan akan menekuni tenis ini. Usia saya masih muda. Baru 22 tahun, banyak peluang masih bisa saya raih. Jadi saya akan terus mengejar cita-cita saya," kata petenis yang mengaku berlatih sangat keras untuk mempersiapkan diri mengikuti turnamen di Bali ini. "Saya akan menambah waktu di Bali untuk menikmati

suasana di Bali. Saya merasakan orang-orang di sini sangat baik," katanya sembari tersenyum.

Ketika ditanya tentang kunci suksesnya di Bali ini, dia pun menjawab bahwa kerja keras adalah kuncinya. "Saya selalu berfikir positif, mempersiapkan diri dengan sangat baik, di lapangan maupun di gym. Di final ini, Bartoli mengalami cidera, dan saya beruntung memiliki fisik yang lebih baik," katanya.

Nervous di awal pertandingan, menurut pengagum Andre Agassi dan Steffi Graf ini adalah hal yang biasa. Namun

setelah pertandingan berlangsung, dia berusaha mengatasinya.

Seperti kebiasaan para juara di Bali, usai pemberian hadiah dan piala, para petenis didandani dengan pakaian adat Bali. Rezai tampak cantik dengan dandanan adat Pulau Dewata saat berlangsung sesi pemotretan di dekat kolam renang Hotel Westin. Ya, dia bukan hanya cantik, tetapi juga ramah. Lihatlah senyumnya terus mengembang. Barangkali beberapa tahun lagi kita akan mengenalinya sebagai petenis top 10 atau bahkan bisa jadi pemain nomor satu dunia, sebagaimana cita-cita penggemar makanan kebab ini. (humas-apj)

Teks foto: Aravane Rezai saat mengenakan pakaian adat Bali. (foto: commonwealth Bank)

© 2009 PELTI | Persatuan Tenis Seluruh Indonesia