Tabloid Tennis
Profil Organisasi
Profil Organisasi » Sejarah Pelti

Tennis, kita ketahui, adalah permainan atau olah raga dengan menggunakan raket dan bola. Dalam olah raga yang juga disebut lawan tennis raket dipukulkan ke bola sambut menyambut - oleh seorang atau sepasang pemain yang saling berhadapan - ke seberang jaring yang sengaja dipasang di sebidang lapangan empat persegi panjang.
Tadinya, sekitar abad ke-I6, tennis dimainkan di Italia, Prancis, dan lnggris, ketika lapangan mainnya dibangun di balik dinding-dinding istana kcrajaan. Tapi tennis modern diperkenalkan oleh Mayor Wingfield di Inggris pada 1873, dan setahun kemudian oleh Nona Mary Outerhridge di Amerika Serikat. Lapangan-lapangan permainannya pun dibangun di kedua negeri itu. Kejuaraan tennis pertama dilangsungkan di Wimbledon, kota kecil sekitar 12 km di barat daya London, Inggris. Persatuan Tennis AS didirikan, 1881. berbagai kejuaraan amatir diselenggarakan di beberapa negara, yang mengundang datangnya beribu-ribu penonton. Mula-mula hanya memainkan partai tunggal putra, diikuti partai tunggal putri tiga tahun kemudiannya.
Tahun 1900 adalah saat bersejarah bagi tennis. Pada tahun itulah Dwight Davis, bintang ganda AS, mcnghadiahkan sebuah piata Perak untuk diperebutkan dalam turnamen antarnegara, yang kcmudian tenar sebagai "Davis Cup" . Dalam pertandingan internasional pertama antara AS dan Inggris, Amerika unggul 3-0.
Kian populer dan majunya olah raga tennis, tak ayal telah mendorong didirikannya "Federation Internationale de Lawn Tennis" (Federasi Tennis Intcrnasionsl) pada 1912.
- Di Indonesia: Lahirnya PELTI
Besar kemungkinan, orang Belandalah yang memperkenalkan tennis di Indonesia, walaupun tidak mustahil pula permainan ini dibawa para pelaut Inggris yang singgah di kota-kota besar Kepulauan Nusantara. Sayang arsip-arsip berbagai perkumpulan milik warga negara Belanda yang pernah berdiri di negeri ini telah hilang, hingga kita tidak bisa melacak mana di antara dua perkiraan itu lebih benar.
Namun yang jelas, di negeri mana pun, olah raga ini mulai dimainkan dan lebih dikenal di kalangan bangsawan, hartawan, dan kaum terpelajar. Juga di Indonesia. Apalagi di zaman penjajahan Belanda. Di masa itu hanya segelintir kaum pribumi yang mampu mengayunkan raket tennis, sedang jumlahnya yang lebih besar terdiri dari orang Belanda dan Cina. Itu pun hanya di kota-kota besar.
Jumlah kaum pribumi penggemar tennis mulai meningkat pada tahun-tahun 1920-an ? seiring kian banyaknya murid-murid Indonesia mcmasuki sekolah sekolah menengah, khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Mereka - umumnya para siswa Stovia, Rechrsschool, dan -NIAS - pada gilirannya memperkenalkan olah raga ini ke kalangan yang Iebih luas. Tennis pun mulai dimainkan atau dipertandingkan dalam kegiatan berbagai organisasi pemuda di masa itu. Olah raga inipun mulai dilihat sehagai penghimpun massa, terutama oleh kaum nasionalis yang mencitacitakan Kemerdekaan Indonesia.
Lahirnya Boedi Oetomo, 1908, dan kemudian Soempah Pemoeda, 1928, memang senantiasa menghangati setiap langkah dan gerak kaum muda di kurun itu. Maka tidak heran bila penjajah Belanda selalu mengintip dan memantau setiap gcrak-gerik pergerakan pemuda, yang nonpolitik apalagi yang berbau politik. Terhadap gerakan yang diduga kecenderungan politik, tindakan pcmbatasan segera dilakukan. Toh serangkaian rintangan itu tidak membuat kaum muda patriotik kehilangan akal. Disemangati sumpah Satoe Noesa, Satoe Bangsa, Satoe Bahasa, mereka melebur beberapa organisasi pemuda yang berpolitik ke dalam satu wadah baru yang disebut Indonesia Moeda, pada 1930.
Latar belakang lahirnya Indonesia Moeda jelas berangkat dari larangan bagi kegiatan politik yang diberlakukan kepada mereka. Mereka berkeyakinan, hanya dengan menggerakkan aktivitas sosial masyarakat baru bisa dicapai persatuan seluruh rakyat menuju kemerdekaan. Di dalamnya juga termasuk kegiatan olah raga. Setiap pemuda yang sehat dan ingin sehat tentu menggernari olah raga, yang di dalamnya sportivitas dan sifat kompetitif merupakan satu sisi dari mata uang, dan pada gilirannya dapat membangkitkan patriotisme.
Semangat cinta Nusa dan bangsa ini nyatanya memang berkembang di kalangan olahragawan Indonesia, termasuk di antara para petennis. Pada semacam kejuaraan nasional yang diadakan oleh De Alegemeene Nederlandsche Lawn Tennis Bond (ANILTB) di Malang, Jawa Timur, akhir 1934, tiga wakil pribumi mampu berjaya. Di partai tunggal putra, dua saudara Soemadi dan Samboedjo Hoerip maju babak final, yang pertandingan akhirnya dimenangkan oleh Samboedjo. Yang lebih mengesankan adalah dua partai berikutnya, yang memperagakan keunggulan anak jajahan atas penjajahnya. Yang pertama, pasangan ganda putra Hoerip Bersaudara, yang menggilas pasangan Belanda, Bryan/Abendanon, 6-3, 6-4 di final. Juara ganda campuran juga diraih keluarga Hoerip, Samboedjo dan Soelastri, yang mendepak pasangan "penjajah" , Bryan/Nn. Schermbeek, 6-4, 6-2 ? sekaligus mencetak gelar pemegang juara tumarnen ANILIB tiga kali beruntun, 1932-19.34.
Prestasi ini tak ayal mendorong Indonesia Moeda mcngadakan Pekan olah raganya sendiri, yang berlangsung pada tiap hari ulang tahun atau pertemuan tahunannya. Tennis, tentu, termasuk di antaranya cabang-cabang yang dipertandingkan. Salah Satu di antaranya yang dilaksanakan pada Desember 1935 di Semarang - yang juga sekaligus menjadi saat dicetuskannya pembentukan Persatuan Lawn Tcnnis Indonesia (PELTI).
Kejuaraan ini sendiri diprakarsai oleh dr. Hoerip yang diakui sebagai Bapak Tennis Indonesia. menghimpun 70 petennis dari seluruh Jawa, kejuaraan ini dipantau dan mendapat perhatian serius dari pihak kolonnial Belanda. Itu tercermin dari pemuatan peristiwa penting olah raga tennis tersebut dalam surat kabar De Locomotif 30 Desember 1935. dengan Judul yang kalau diterjemahkan berbunyi : "Kejuaraan Tennis Seluruh Jawa dari Pcrsatuan Lawn Tennis Indonesia" . Namun, di pihak lain, ini juga berarti pengakuan pihak Belanda bahwa ANILTB telah mendapatkan saingannya.
Tanggal 26 Desember 1935 kemudian dicatat sebagai kari lahirnya PELTI
Gagasan pendirian PELTI sendiri, yang dikemukakan pada Kejuaraan Tennis di Semarang itu. berasal dari Mr. Budiyanto Martoatmodjo. tokoh tennis dari Jember - ia kemudian dianggap sebagai pencetak dasar utama pendirian organisasi PELTI. Ketika mcnguraikan azas dan tujuan pendiriannya ia mcngatakan bahwa PELTI, sebagaimana organisasi kebangsaan lainnya, sama sekali "Tidal bersifat mengasingkan diri." Maka PELTI akan selalu siap bekerja lama dengan persatuan tennis manapun dan apa saja, asal atas dasar saling menghargai.
Diungkapkan pula. tujuan praktis utama PELTI adalah mengembangkan dan memajukan permainan lawan tennis di tanah air dan bagi bangsa sendiri. Dengan cara ini. Iebih jauh, diharapkan akan dicapal tali persaudaraan yang erat di antara segala perhimpunan dan pemain tennis bangsa Indonesia. PELTI juga akan menyebarluaskan peraturan permainan, memberi keterangan dan bantuan dalam pembuatan lapangan tennis. Juga mengadakan dan mengatur serta menyumbang bagi terlaksananya pertandingan, di samping berusaha memasyarakatkan permainan tennis itu sendiri.
Gagasan pendirian PELTI mendapat dukungan yang memadai, khususnya di kalangan yang berani mengambil resiko berhadapan dengan pemerintah kolonial, termasuk dari kalangan yang terpandang. Di Semarang saja, para simpatisan semacam itu tidak sedikit jumahnya. Misalnya: Dr. Buntaran Martoatmodjo (yang kemudian, sejak 1935, menjadi ketua PELTI lima tahun berturut-turut), Dr. Rasjid, Dr. Mokhtar, Dr. Sardjito, R.M. Soeprapto, Nitiprodjo, dan beberapa lainnya. Dari Para tokoh berbagai kota Iainnya, dukungan diwakili oleh: Mr. Budhiyarto Martoatmodjo (Jember), R.M. Wazar (Bandung), Djajamihardja (Jakarta), Mr. Susanto Tirtoprojo (Surabaya), Mr. Soedja (Purwokerto), Berta Mr. Oesman Sastroamidjojo, ahli olah raga tennis yang namanya terkenal di Eropa.
Pada umumnya, mereka memandang simpatik gagasan Dr. Hoerip, yang sebernarnya sudah dicetuskan sejak 1930, diilhami oleh berdirinya PSSI pada 30 April tahun itu. Tapi para tokoh tadi berbeda pendapar dalam beberapa hal, terutama mengenai saat yang tepat bagi pendirian Induk organisasi tennis Itu. Dari berbagai sikap yang lahir - revolusioner, moderat, plintat-plintut - akhirnya golongan tengahlah yang merupakan mayoritas. Pengalaman pahit saat-saat pendirian PSSI tampaknya menjadi cermin pembanding bagi para pelopor PELTI, hingga mereka memilih bersikap Iebih hati-hati menghadapi reaksi pemerintah Belanda - mereka tentunya tidak senang melihat setiap kegiatan yang bersifat mempersatukan kekuatan. Para pendiri PELTI tidak Ingin organisasi yang akan mereka dirikan mati dalam kandungan. Itulah sebabnya PELTI baru berdiri lima tahun kemudian, 1935. - Era Pengembangan (1936 . 1940)
Saudara sekandung, namun latar belakang pendirian PSSI dan PELTI bertolak punggung. Kalau PSSI lahir berdasarkan kesatuan pendapat berbagai perkumpulan sepakbola - yang nyata-nyata ingin rnemisahkan diri dari Persatuan Sepak Bola Hindia Belanda - PELTI dilahirkan oleh gagasan perorangan yang sekaligus menggerakkan nya. Karena itu, kelemahan utama PELTI sejak awal Iahirnya adalah dibidang organisasi. Tidak jelas siapa yang sebenarnya berhak menjadi nnggotanya: persatuan/ daerah, perkumpulan/klub, atau perorangan. Inilah yang dimanfaatkan secara baik oleh ANILTB dengan menetapkan politik devide et impera -nya.
Praktek "pecah dan kuasailah" Itu berangkat dari kecemburuan dan kekhawatiran - cemburu tersaingi dan kehilangan pamor, khawatir PELTI menjadi perpanjangan kegiatan politik untuk mencapal kemerdekaan. Dua hal Ini tersirat dalam bcrita surat kabar De Indische Courant, yang terbit di Surabaya. Sabtu 13 April 1936: Bagi Kedirische Tennisbond (Pcrsatuan Tennis Kediri milik orang Belanda - Red.) tahun lewat sangat penting . Tennis mulai berkembang di kalangan rakyaf di luar masyarakat Belanda."
Mereka tampaknya cemas melihat bermunculannya bibit-bibit muda berbakat di kalangan warga Indonesia. khususnya di kota-kota besar. Misalnya. di Bandung: A.A. Katili, Ketje Soedarsono, Carebert Singgih. Caroline Singgih, dan Soedjono. Di Solo: Panarto, Soeharto, Srinado, dan Soeparis. Di Surabaya: Doelrachman, Lantip, Tumbelaka, dan Latumeten.
Dan Inilah yang dilakukan keempat "Pendawa" Surakarta: di bawah pimpinan Pangceran Soerjohamidjojo, mereka (Panarto, Soeharto, Soeparis, Srinado) menyerbu geIanggang Bandoengsche Tennis Unie
(BTU). Ketika itu, 1937, Soeparis yang baru berusia 15 tahun menyapu bersih seluruh lawannya, dengan flying forehand-nya yang patent itu. Bahkan jago pihak sana, Cooke, ikut tersikat. ANILTB pun tergeser.
Akibat Iebih jauh, PELTI lalu dianggap rival serius oleh ANILTB. Padahal waktu itu, berbagai persatuan dan klub tennis di kota-kota besar, seperti Persatuan Tennis Indonesia Bandung (PTIB) dan di Jakarta, belum menjadi anggota PELTI. Namun, dalam keadaan demikian, dan dalam langkahnya dana, organisasi tennis Indonesia "asli" itu sanggup menyclenggarakan turnamen tahunan. Maka tak terlalu salah bila pihak Belanda mengendus sesuatu yang berbau idealisme politik di dalam tuhuh PELTI.
Menganggap sudah begini berbahayanya sang rival, maka menjelang kejuaraan PELTI, 1937, di Yogyakarta, ANILTB- mengharuskan PELTI bergabung dengannya. Bahkan dengan nada yang mengancam keselamatan PELTI. Ancaman ini sempat menggoyahkan organisasi tennis Indonesia itu, sampai lahir usul agar diadakan scmacam gentlemen's agreement (perjanjian persahabat-an). Tapi usul itu ditentang keras oleh I'B PELTI.
Ada baiknya dikutip risalah rapat PELTI, yang dikeluarkan pada tahun 1939:
"Ketua PELTI: Mengenai gcntlement's agreement itu, sebaiknya kita menunggu saja dahulu dan mengarnbil sikap berhati-hati dan waspada. Yang paling penting bagi kita adalah masuknya semua persatuan-persatuan tennis dahulu. Per tandingan persahatan dan dengan ANILTB dapat diadakan tiap saat jika dipandang perlu."
"Dalam tahun 1937 mereka telah mengancam kita waktu PELTI hendak mengadakan turnamen kejuaraan yang ketiga. Mereka mengharuskan kita untuk masuk ke dalam ANILTB. Hal ini menimbulkan kegegeran di kalangan kita. Kemudian membicarakannya dalam rapat menentukan secara bulat bahwa PELTI harus merupakan suatu organisasi nasional seperti halnya dengan PSSI. Kerja sama dengan lainnya permainan dengan sendirinya selalu kita usahakan dengan giat."
Dengan menegaskan bahwa "PELTI harus merupakan suatu organisasi nasional yang tetap seperti halnya dengan PSSI" , maka makin jelas sikap persatuan tennis Indonesia yang patriotic.
Dalam keadaan demikian, PELTI tidak ingin memhahi huta. PELTI memilih menggescr scat herlangsung pertandingan tahunannya, dari hari-hari Libur Natal (Desember) ke hail liburan Paskah. Dengan demikian, rncreka menghindari hentrokan - yang tidak( prinsip - dengan kegiatan pertandingan ANILTB. itulot rnulai dilakukan PELTI saat merayakan lustrumnya yang
pertama, 1939. pada tahun itu pula herlangsung kongresnya yang pertama.
Pertandingan yang berlangsung di pasir . Kaliki, Bandung ? lapangan baru dan bagus, dan berkat jasa baik F. Buse - mempertemukan Samhoedjo dan Panarto di final tunggal putra. Pertarungan in dimenangkan oleh Samhoedjo, yang sekaligus menjadi juara untuk ketiga kalinya. Mahkota juara tunggal putri diraih oleh adiknya, Soelastri, yang juga berarti mempertahankan juara untuk tiga kali beruntun. Juara ganda putra digondol pasangan Santos/Sanjoto Hoerip, untuk kedua kali berturut-turut. Keperkasaan Keluarga Hoerip di lapangan tennis dikukuhkan oleh pasangan Soelastri/Soeharniati, yang merampas juara ganda wanita, untuk ketiga kali pula.
Dalam kcadaan tetap diincar oleh ANILTB, permasalahan keanggotaan PELTI tetap menjadi ganjalan. Baru setelah kongres pertamanya, 30 April 1939, masalah keanggotaan ini dibicarakan lebih sungguh-sungguh. Toh selama empat tahun sejak berdirinya, hanya berbekal tekad sekelompok orang, PELTI membuktikan dirinya mampu bertahan. Malahan, organisasi ini berhasil menyelenggarakan kejuaraan tahunannya, dengan peserta yang kian bertambah dan mute yang makin baik.
Saat inilah PTIB dengan resmi menjadi anggota PELTI. Kcjuaraannya dibakukan sebagai "Kejuaraan Tennis Indonesia" . Mutunya yang kian meningkat diakui oleh surat kabar A.1.D. de Preangerbode, 3 Mei 1939. Surat kabar yang terkenal reaksioner ini menulis:
"Semua juara digondol oleh kelurga Hoerip. Turnamen yang diikuti oleh banyak pemain kuat."
"Jika ada suatu turnamen tennis yang sungguh dapat dibanggakan, justru itulah kejuaraan Indonesia yang baru diselenggarakan PELTI ini. Jarang sekali - terutama di Bandung - kita menyaksikan suatu turnamen tennis, dan tenama yang diselenggarakan dengan rapih dan bagus sekali."
"Mengenai organisasi yang bagus ini, terus terang, di Bandung ini jarang sekali kita saksikan, lebih-lebih pada waktu akhir-akhir ini. Dalam hal pengorgaisasian, ternyata PTIB melebihi perkumpulan lain di kota ini. Mengenai umpires dan linesmen misalnya, lama sebelum turnamen dimulai telah disiapkan orang-orangnya. Mr. Oesman dan kawan-kawan telah membuktikan bagaimana seharusnya menyelenggarakan sebuah turnamen yang baik. ... Kepada mereka kita sampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya."
"Bukan segi organisasi saja, tapi dari sudut pcrmainan pun turnamen telah sangat berhasil ..."
Era pengembangan PELTI ditutup dengan kejuaraan tennis nasional di Surabaya, 1940. Pada kesempatan ini, seluruh jago-jago tennis Indonesia ikut serta, kecuali Samboedjo Hoerip. Gelar tunggal putra diraih A.A. Katili dari Jakarta, yang menundukkan Lantip di final. Ganda putra dijuarai Panarto/Doelrachman. Pada kesempatan inilah Iahir dua pemain berbakat besar, Tan Liep Tjiauw dari Blitar, dan Toto Soetarjo dari Bandung.
Perlu ditambahkan sedikit mengenai gebrakan-gebrakan PELTI, terutama kegiatan yang berlangsung dalam rangka lustrumnya yang pertama di Bandung. Banyak pihak yang menganggap bahwa dari Bandunglah kemenangan telah dimulai; keadaan kartu yang dimainkan menunjukkan kekuatan telah berada di tangan kita. Kenyataan ini tampaknya disadari oleh Tuan Janz, ketua Bandoengsche Tennis Unie (BTU). Menyaksikan turnamen di Bandung atas undangan, konon dialah yang menyarankan epada ANILTB agar mengakui saja PELTI sebagai induk organisasi tennis, sehingga dapat berjalan berdampingan dalam suasana yang bersahahat. Dengan demikian Janz berharap berbagai turnamen ANILTB tidak akan ditinggalkan para pemain Indonesia.
Entah karena nasehat Janz atau karena situasi internasional yang memburuk, atau karena kedua-duanya, ternyata ANILTB mulai mengambil sikap yang terkesan tidak memusuhi PELTI lagi. Yang jelas, minimal mereka telah menghentikan kasak-kusuknya kepada PELTI dan para anggotanya.
Pihak PELTI sendiri, yang sejak mula berasas mau hekerja sama dengan organisasi mana pun juga, menghargai perubahan sikap ini dengan diam-diam. Perubahan status quo itu dinilai membuktikan bahwa kekuatan organisatoris telah beralih ke pihak Indonesia. Sementara PELTImenyelenggarakan kejuaraan tahunan keenamnya di Surabaya, yang diselenggarakan oleh Indonesische Tennis Organisatie Surabaya (ITOS), ANILTB tak sempat lagi mengadakan jaarlijksche kampioenschappennya. Tampaknya serbuan Pasukan NAZI ke Negeri Belanda mempengaruhinya.- Masa Nonaktif (1941-1949)
Getaran Perang Dunia II mulai mengimbas ke Nusantara. Pemerintah kolonial dan orang-orang Belanda mulai kalang-kabut, dan lalu lari terbirit-birit begitu pasukan pendudukan Jepang menjejakkan kakinya di Indonesia. Semua orang yang asing dan pribumi, mulai hanya memikirkan keselamatan dirinya sendiri.
Pada masa pendudukan Jepang ini, kegiatan PELTI pun terhenti. Bukan saja karena keadaan ekonomi yang kian suram, tetapi juga karena kaum penjajah baru melakukan pembuharan semua organisasi, yang politik, sosial, maupun olah raga. Seluruh kegiatan kemudian dihimpun dalam saw wadah yang disebut Tai Iku Kai ( "Persaudaraan Nippon-Indonesia" ).
Selama masa ini, hanya dua kali Tai Iku Kai menyelenggarakan kejuaraan tennis. Yang pertama, 1942, yang mengikutsertakan seluruh petennis di Jawa, menampilkan Tan Liep Tjiauw sebagai juara tunggal putra setelah di final menundukkan A.A. Katili. Di nomor ganda putra, Tan Liep Tjiauw yang herpasangan dengan Oei Beng Liem mengalahkan Soeharto/Srinado di final. Pada kejuaraan kedua, 1943, juara tunggal diraih A.A. Katili setelah di final mendepak Ketje Soedarsono.
Pada zaman serba susah itu, kejuaraan utama para petennis bagaimana mendapatkan bola dan raket - kalau pun ads itu pun merupakan stok dari zaman Belanda. Di kota-kota kecil kesulitan yang lebih parah menjadikan tennis olahraga tabu.
Pembentukan Gerakan Latihan olah Raga Rakyat (Gelora) pada ambang keruntuhan Jepang, 1944, sebagai ganti Tai Iku Kai, tak banyak menolong. Situasi yang nonaktif dan mandek ini Nikon saja menahan lahirnya bakat-bakat baru, tetapi juga menyendatkan perkembangan bibit-bihit yang mulai tumbuh. Itulah yang dialami Doelrachman, Ketje Soedarsono, dan Toto Soetarjo. Perang malahan merenggut petennis andal Samboedjo Hoerip.
Kalau di zaman Jepang sekali-sekali masih ditemui orang hermain tennis, di masa awal kemerdekaan Indonesia seluruh upaya tercurah kepada penyelamatan Republik yang baru, Iahir. Keadaan ini tentu tidak bcrlaku di kawasan pendudukan Belanda.
Kegiatan olahraga mulai dibangkitkan pada 1947, dengan berlangsungnya Kongres Olahraga, Januari tahun itu. Salah satu keputusannya adalah: Gclora warisan jepang dikuburkan, dan Persatuan Olah Raga Republik Indonesia (PORI) dinyatakan berdiri. Seluruh induk kegiatan olahraga, seperti PSSI, PAST (atletik), dan PELTI, dihidupkan kembali dan ditetapkan sebagai anggota otonom PORI. (PORI pada hakekatnya nama baru bagi Ikatan Sport Indonesia (ISI) dari zaman sebelum Perang Dunia II, yang diketuai Soetardjo).
Tahun berikutnya, 1948, berlangsung Pekan Olah Raga Nasional (PON) I, di Solo. Tennis termasuk cabang olahraga yang dipertandingkan. Meski PON pertama ini tak sempat menghadirkan sejumlah pemain tennis kawakan, tapi peristiwa tersebut merupakan titik tolak b angkitnya rasa kebersamaan dan persatuan, khususnya di kalangan olahragawan, termasuk di antara para petennis. Pertandingan tennis PON I menampilkan Toto Soetarjo dan Nyonya Soedomo sebagai juara tunggal putra dan putri. Sedang ganda putra dan campuran masing-masing direhut oleh pasangan Soejono Toto Soetarjo dan Mapaliey/Nyonya Soedomo.
Di masa setelah proklamasi itu, Belanda masih ingin menanamkan pengaruhnya lewat tennis ? tentu di daerah-daerah yang didudukinya. Mereka mendirikan organisasi baru, Indonesian Lawn Tennis Association (ILIA), dan pada 1950 menyelenggarakan "kejuaraan Indonesia" . Yang tampil sebagai juara putra adalah Lie Boen Swan (Malang), setelah di final mcnundukkan Firman Harahap (Jakarta).
ltulah kejuaraan ILTA yang pertama dan terakhir. Dalam Kongres PELTI, 1951, ILTA meleburkan diri ke dalam organisasi yang disebut pertama. Rembukan peleburan itu dilakukan pada kesempatan berlangsungnya Kejuaraan PELTI di Semarang, 23 - 26 Maret 1951.
Era Pengembangan (1950 . 1960)
Leburnya (LTA ke dalam PELTI jelas lebih menguatkan tubuh pertennisan Indonesia. Sambil mcngubah AD-ART sesuai dengan perkembangan zaman, PELTI mulai melihat ke luar - melaksanakan tugas internasionalnya untuk menyemarakkan kehidupan berbangsa dan bertanah air. Itu tercakup dalam program tiga tahapnya, yang lengkapnya meliputi: turut aktif dalam organisasi internasional; menjalin hubungan luar negeri lewat pengiriman para petennis Indonesia ke berbagai negara dan mendatangkan para pemain asing; dan untuk itu perlu dididik para calon dutanya.
Sambil menggalakkan kegiatan dalam negeri, seperti kejuaraan tahunan, PELTI mendaftarkan diri sebagai anggota International Tennis Federation (ITF), yang b ermarkas di Inggris. Dan diterima. Keanggotaan ini penting, karena hubungan tennis antarnegara hanya dilakukan melalui Federasi tersebut.
PELTI kini mulai mengintip Wimbledon. Pada 1953, dikirimlah fan Liep Tjiauw, juara nasional dua tahun beruntun (1951-19 . 52). Tampilnya "Little Tan" - demikian is dijuluki - tidak mengecewakan. Pada babak pertama, ia membabat petennis Piala Davis Sri Langka, Scharenguivcl. Sayang, di babak kedua Tan harus menerirna kekalahan dari petennis Belgia, Philippe Washer, dan gugur.
Tiga tahun kemudian, 1956, PELTI mengirimkan Tan Liep Tjiauw, Ketje Soedarsono, dan Liem Yoe Djicm ke Interport Championship di Singapura. Pada kejuaraan yang diikuti pula oleh Malaya (sekarang Malaysia), Muangthai, dan Sri Langka, itu Indonesia menjadi juara setelah mengalahkan 3-0 pada babak pertama, dan menundukkan Sri Langka 2-1 di final.
Sebagai pemegang piala, Indonesia sebenamya herhak menjadi tuan rumah pada kcjuaraan berikutnya, tapi kesempatan dilepaskan kepada Malaya. Kali ini berlangsung di Kuala Lumpur, 28-31 Agustus 1957, diikuti enam negara - 4 negara yang sudah pernah ikut sebelumya ditambah Hongkong dan Vietnam. Indonesia rnengikutkan Tan Liep Tjiauw, Ketje Soedarsono, Liem boen Swan. dan Kwee Som Tjok. Empat Pendekar itu kembali berjaya, dengan rnenundukkan Hongkong 2-I di semi-final dan Malaysia di final dengan angka yang sama. Tahun-tahun berikutnya Indonesia absen, karena kesulitan biaya.
Keluar, PELTI mampu menunjukkan ketangguhannya dengan menerobos politik pecah-belah Belanda. Namun ke dalam, dalam pembibitan dan pembinaan pemain, organisasi tennis ini tarnpaknya kurang berhasil. Ini terlihat dari "miskinnya stok pemain" . Antara 1952 dan 1959, para petennis yang mcrebut juara itu-itu saja, secara bergiliran. Di bagian putra bergiliran antara Tan Liep Tjiauw dan Ketje Soedarsonn, sedang di bagian putri adalah Ny. Tan Liep Tjiauw, Ny. Kwee Tjoen An dan Ny. Socnarto (Soelastri Hoerip) yang hergiliran tamril.
Menjelang berakhirnya era pengembangan PELTI ini, patut dicatat kesertaan para petennis Indonesia ke pesta Olah Raga Asia (Asian Games) di Tokyo, 1958. Di cabang tennis, pertandingannya bersilat perseorangan namun para utusan mewakili negaranya masing-masing. Pada waktu itu PELTI mengirimkan Ny. Tity Pandji (Bandung), Vonny Djoa (Salatiga), serta Soegiarto dan Sie Kong Loen (Bandung).
Era Pembinaan (1961 . 1965)
Masa-masa paling berat dalam perjuangan PELTI telah dilalui, dengan mencetak prestasi lumayan. Narmun dua yang paling penting diantaranya adalah keherhasilan menghancurkan dua organisasi tandingan. Pertama, ANILTB - yang paling bahaya - pada 1939, dan kemudian ILTA pada 1951. Maka sikap pantang menyerah yang menyertai keberhasilan itu tampaknya telah menjadi semboyan PELTI: Pantang Surut.
Namun pada masa-masa kemudiannya bukan berarti tanpa kesulitan. Kesulitan yang klasik: dana, baik secara organisasi maupun perorangan. Akibatnya, pada berbagai kejuaraan daerah terpaksa digunakan bola dan raket tennis bikinan lokal yang rendah mutunya.
Pada kurun lima tahun pertama dasawarsa 1960-an itu, rnenyertai langkanya dana tadi, prasarana dan sarana pertenisan menjadi kian buruk. Sejak Perang Dunia II, kas PELTI bukan saja kosong tetapi harus tutup hukum diakhir talus dengan jumlah utang yang besar. Dalam keadaan demikian, harga bola dan raket meroket, yang pada gilirannya menyerimpung tekad memasyarakatkan olahraga tennis. Jumlah lapangan tennis bukannya bertambah, tetapi kian menyusut digusur keperluan pembangunan di sektor yang lebih penting. Di Jakarta saja, sekitar 70 lapangan tennis di Merdeka Utara (bekas Sport club), Ikada, Kcbun Binatang Cikini, dan lain-lain, lenyap tak tergantikan.
Kesulitan memang tak habis-habis. Misalnya bagaimana seorang pemain, yang berbakat tapi tak mampu, harus datang dalam kcadaan fit di lapangan pertandingan, jika Team Indonesia yang memenangkan Juara I Asian Games di India. keperluannya sehari-hari (makan yang cukup dan bergizi, pakaian yang pantas serta ongkos transportasi) tak terpenuhi.
Dalam keadaan demikian, bagaimana syarat More Training and Tournaments - yang dianjurkan Pclatih Larry Hall dari AS ketika melakukan coaching clinic selama tiga bulan di berbagai kota di Jawa - bisa diterapkan. Keadaan ekonomi yang melesukan telah mcngakibatkan sebaliknya: volume latihan dan pertandingan diciutkan. Padahal bantuan pemerintah di bidang olahraga jauh di bawah yang direncanakan semula.
Ironisnya, pemerintah menyelcnggarakan dua pesta olahraga yang bersifat regional dan intcrnasional. Pertama, Asian Games IV, 24 Agustus - 3 September 1962, di Jakarta. Kedua, Ganefo I, 10-21 November 1963 juga di Jakarta. Yang paling kontroversial adalah Komando Presiden Soekarno (Putusan Presiden No. 263 tahun 1963) tentang peningkatan prestasi para atlet sehingga dalam masa 10 tahun Indonesia mampu mencapai peringkat ke-10 di dunia (the b est ten in the world). Dalam rangka ini pula, tampaknya, Dcpartemen Olah Raga dibentuk.
Namun, dalam keadaan bagaimana pun, PELTI rupa-rupanya benar-benar pantang surut. Justru dalam masa sulit ini lahir sejumlah bintang remaja: Sie Nie Sie, Sugiarto, Go Soen liouw, Diko Moerdono (putra), semi Lita Liem, Lanny Kaligis, dan Dien Baroto (putri). Merekalah yang waktu itu diharapkan menjadi cikal bakal petennis Indonesia di kemudian hari.
Untuk pertama kalinya, pada 1961 PELTI mengikuti turnamen antarnegara paling gengsi, yakni Piala Davis. Pada babak pertama yang berlangsung di Bandung, regu Indonesia yang mengandalkan Tan Liep Tjiauw, Itjas Sumarna, Sugiarto, dan Sie Kong Loen harus menghadapi rcgu India yang terkenal tangguh. Maka Tan dan kawan kawan harus menelan kekalahan 1-4 dari para pemain kelas dunia India yang terdiri dari Krisnan, Mukerjee, dan Lill. Pertarungan memperebutkan Piala Davis beberapa tahun berikutnya Indonesia absen, antaranya karena tersandung dana yang langka.
Dalam Pesta Olah Raga Asia (Asian Games) .IV di Jakarta, regu tennis Indonesia juga kurang berhasil. Di nomor beregu dan perorangan putra, Sie Kong Loen dan kawan-kawan menemui kegagalan. Di bagian putri, Vonny Djoa dan rekan-rkan berhasil merebut medali perunggu untuk beregu, ganda putri, serta menyumbang "separuh" untuk ganda campuran. Patut dicatat, andalan Indonesia Sie Nie Sie berhasil mengalahkan jago-jago Jepang, Koji Watanabe dan Atsushi Mijagi, dalam nomor perscorangan.
Ganefo 1, yang lebih bersifat manuver politik ketimbang kcgiatan olahraga, atlet-atlet tennis Indonesia boleh dibilang juga mengalami kegagalan. Di sini, regu putra dan putri kita hanya merebut perunggu, sedang perak direbut Cina, dan emas jatuh ke tangan Uni Soviet yang menyandang predikat juara umum.
Pada saat berlangsung Genefo inilah Tan Liep Tjiauw, yang sebelumnya berkali-kali ? bahkan didampingi istrinya - merajai tumamen nasional, meninggal dunia secara mendadak. Kubu PELTI terhenyak oleh kehilangan petennis yang terkenal dengan drive forehand topspin yang mematikan ini.
Dari pengalaman dua turnamen regional dan internasional itu PELTI segera menyadari pentingnya pembinaan jangka panjang dan berkesinambungan. Para petennis yunior, seperti Diko Moerdon, Go Soen Houw, Lita Liem, dan Lanny Kaligis mulai sadar pentingnya mendalami "ilmu" pertennisan sambil mengikuti berbagai pertandingan. Kalau perlu di negeri-negeri tennis sendiri. Maka Diko dan Soen Houw pun berangkat ke Amerika, sedang Lanny dan Lita ke Australia dan Eropa. Pengalaman belajar dan bertanding di negeri-negeri, yang telah mcngadakan pendekatan ilmiah terhadap olahraga tennis, memang sangat diperlukan untuk peningkatan prestasi. Ini juga dapat menumbuhkan kepercayaan diri.
More training and tournaments, kata semboyan. Jika ini menjadi prinsip, ada keyakinan dalam masa lima tahun PELTI akan mampu mcnghasilkan petennis-petennis berkualitas - minimal setaraf dengan generasi yang digantikannya.- Zaman Keemasan (1966-1987)
Sebagai hasil pembinaan yang dilakukan pada era 1961-1965, pada masa scjak 1966 hingga tahun-tahun berikutnya PELTI mengalami zaman keemasan, bagi dari segi organisasi maupun prestasi di lapangan. Ditupang oleh keberhasilan pcmbangunan sejak Orde Baru berkuasa, tangan organisasi PELTI sudah mencapai ke pelosok yang terjauh dari pusat Kini kita menyaksikan semakin banyaknya lahir para petennis dari luar Jawa hal yang langka di masa penjajahan dan awal kemerdekaan. Di sinilah pentingnya peran PON, yang dicetuskan pertama kali di Solo, 1948.
Pada PON-PON bcrikutnya - dari PON Il di Jakarta, 1951, hingga PON XI di Jakarta 1985, kecuali PON VI di Jakarta yang gagal karena meletusnya G30S/PKI, 1965 ? dominasi petennis dari Jawa memang terlihat. Namun dalam jangka waktu itu, rangkaian PON telah menampilkan sejumlah petennis luar Jawa yang berkualitas. Misalnya Sofyan Mudjirat, Suwito dan Chr. Budiman (Sumatera Utara), Iskandar Kita dan Ilsyas Mapakaya (Sulawesi Selatan), Alex Karamoy, Eddy Baculu dan Alfred Raturangtang (Sulawesi Utara). Ini di kelompok putra. Di kelornpok putri, tercatat nama Ny. Sulastri (Kalimantan Selatan), Letsy Mantiri (Sulawesi Selatan), dan Yova Sumampou (Sulawesi Utara).
Kalau ingin dikotak-kotakkan, sumbangan pemain luar Jawa berasal dari Sumatra Utara, Sumatra Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan. Ditambah dengan pemain dari Jawa sendiri, kekuatan kubu tennis Indonesia lumayan tangguhnya.
Semua keberhasilan ini tentunya dimungkinkan oleh tcrsedianya sarana bagi peningkatan prestasi, yaitu terselanggaranya pertandingan secara teratur. Berbagai jenis pertandingan yang diadakan itu terdiri daripada pertandingan antara petennis atau antar klub di jenjang paling bawah, meningkat ke antar wilayah, Ialu berlanjut ke tingkat nasional, dan kemudian di tingkat internasional. Kegiatan pertandingan menajdi kian padat, karena berbagai event tingkat yunior pun dimulai tampil ke permukaan. Inilah yang disebut keberhasilan dibidang organisasi.
Ditingkat Internasional, di masa 1966 - 1987 ini kita mencatat berbagai prestasi yang membanggakan. Diera inilah Indonesia berhasil menjadikan dirinya salah satu India, Korea Selatan, dan Cina.
Dalam lingkup Regional, awal era emas mulai dicanangkan oleh petenis putri lanny Kaligis, kita Liem, dan Mien Suhadi di Asian Games 1966, Bangkok, Muangthai, putri - putri generasi baru pertenisan Indonesia itu menyabet emas di nomor beregu, di samping ditunggal dan ganda putri masing - masing atas nama Lanny Kaligis dan Lanny Kaligis/kita Liem. Prestasi juga diraih diberbagai kejuaraan nasional di Srilangka. Malaysia, dan Singapura. Berikutnya disejumlah kejuaraan regional dan nasional di Australia, Eropa dan Australia, dijadikan wadah peningkatan prestasi dan raihan pengalaman.
Pada 1969 para putri PELTI maju ke Turnamen womens's Federation Cup di Athena, Yunani. Di babak pertama mereka mencukur gandul 3-0 regu nyonya rumah kendati kemudian diganyang sama telaknya oleh regu Belanda.
Tahun berikutnya, duo Lanny-Lita mengalami nasib sial. Bertanding di Freiburg, Jerman Barat, langsung pada babak pertama mercka harus menghadapi rcgu kuat dari Swedia. Lanny mampu membabat Ingrid Bentzer 6-4, 6-I, tapi Lanny hams menyerah pada juara nasional Swedia, Christina Sandberg, 2 . 6, 3-6. Di partai ganda putri, set pertama yang mcnentukan dimenangkan Lanny-Lita dengan angka 6-2. Dalam keadaan voor 2-0 pada set kedua dan game-point 40-0 bagi Lita sebagai pengambil servis, Lanny mendapat bola return-lob yang agak tinggi dan ia melakukan loncatan untuk melakukan smash, Tapi, wahai, ketika Lanny kembali mcnginjak tarsals, kakinya terserang kejang otot. la meringis kesakitan. Akibatnya, Lanny praktis sudah lumpuh, dan hasil akhirnya telah dapat diduga: 2-6, 6 . 2, 6-3 untuk kemenangan lawan.
Ketika prestasi Lita Liem alias (Nyonya) Lita Sugiarto dan rekan-rekan mulai terkesan menurun, para petennis putra Indonesia bagai terlecut. Dan ini mendorong mereka mencetak prestasi. Kuartet Atet Wiyono, Gondowijoyo, Hadiman, dan Yustejo Tarik (putra tokoh tua Mohammad Yusuf Tarik) berhasil dengan baik menenruskan tradisi emas POR Asia di Asian Games 1978 di Bangkok, Muangthai. Di sini mercka merebut seluruh medali emas yang diperebutkan cahang tennis bagian putra, untuk nomor beregu. tunggal (Atlet Wiyono), ganda (Atet Wiyono/Gondowijoyo).
Di Asian Games berikutnya, 1982, di New Delhi, India, para putra Indonesia masih memperlihatkan keunggulannya. Pada kesempatan kali ini, mercka merebut duo medali emas di nomor beregu (Yustedjo Tarik, Tintus Wibowo, Hadiman, Wailan Walalangi) dan di partai tunggal (Yustedjo Tarik).
Tradisi emas ini masih mampu dipertahankan anak-anak tennis Indonesia di Asian Games 1986, di Seoul, Korea Selman. Prestasi itu diraih lewat pasangan ganda putri muda usia, Suzanna Anggarkusuma/Yayuk Basuki. Inilah satu-satunya medali emas kontingen Indonesia dari pesta olahraga regional Asia paling gengsi itu.
melengkapi kejayaan di POR Asia, para petennis PELTI mcncetak prestasi tambahan di serangkaian kejuaraan SEA Games - begitu Indonesia diterima dalam federasi olahraga negara-negara Asia Tenggara. Sepanjang event yang berlangsung antara 1977 - 1987, kita telah telah membuktikan diri sebagai yang terbaik di cabang tennis di kawasan ini
Pada SEA Games 1977 di Kuala Lumpur, Malaysia, regu tennis Indonesia meraih enam dari tujuh medali emas yang diperebutkan yaitu dari nomor beregu putra dan putri, tunggal putri (Yolanda Soemarno), ganda purti (Lanny Kaligis I.umanow/Lia Liem Sugiarto), ganda puta (Atet Wiyono/Gondowijoyo), ganda campuran (Gondowijoyo/Lita Sugiarto). Satu-satunya yang lepas dari raihan emas adalah di nomor tunggal putra.
Jumlah medali emas yang sama juga diraih pada SEA Games bcrikutnya, di Jakarta, 1978. Juga kecuali di nomor tunggal putran, rcgu tennis Indonesia mcrcnggut emas mendali emas melalui regu puttra dan putri tunggal putri (Lita Sugiarto). ganda putri (Liza Sugiarto/Yolanda Snentarno), ganda putra (Yustedjo Tarik/Hadiman), dan ganda campuran (Gondowijoyn/Lira Sugiarto).
Dua SEA Games berikutnya. di Manila 1981 dan di Singapura 1983, prestasi Indonesia tampak mcnurun. Toh hasil yang dicapai pada kedua event, masing-masing dua pila emas dari rcgu putra dan putri, masih menempatkan ia sebagai tim terkuat di Asia Tenggara.
Di SEA Gaines 1985, di Bangkok, pamor rcgu tennis kita kcmbali membaik kendati belum mencapai prestasi tahun 1977 dan 1978. Menyabet lima medali emas, masing-masing berasal dari rcgu putra (Tintus Ari Wibowo, Wailan Walalangi, Suharyadi, Sulistino) dan putri (Suzanna Anggar kusuma), Yayuk Basuki, Utami ningsih, Lucky tedjamukti), tunggal putra (Tintus Ari wibowo), tunggal putri (Suzanna Anggarkusuma), dan ganda campuran (Tintus/Suzanna).
Ada dua catatan penting dari era emas ini. Pertama, keberhasilan regu piala Davis indonesia dalam final Zone Timur yang berlangsung di Senayan, Jakarta. Terdiri dari Yustedjo Tatik, Atet Wiyono, Tintus A.W, Hadiman, dan wailan Walalangi, anak-anak PELTI itu menghancurkan regu I Jepang dengan telak : 5-0. Keberhasilan Ini tak urung menempatkan Indonesia sebagai negara elite tennis, masuk jajaran 16 negara tennis dunia. Ini berarti sejajar dengan raksasa tennis dunia: Amerika Serikat, Swedia, Australia, India, prancis, dan sebagainya.
Peristiwa penting kedua yang juga harus dicatat dengan lima emas adalah, keberhasilan petenis Indonesia di SEA Games 1987 di Jakarta. Regu Indonesia (Tintus A.W, Wailan Walalangi, Suhayadi, Abd. Kahar MIM, serta Suzanna Anggarkusuma, Yayuk Basuki, Agustina,Wibisono dan Tanya Soemarno) berjaya menyapu bersih seluruh tujuh mendali emas yang diperebutkan - sapu bersih seluruh tujuh emas yang pertama dalam scjarah SEA Games. Melengkapi prestasi ini, Tintus membukukan pula dua kali juara SEA Games (Bangkok dan Jakarta), sedang Yayuk Basuki (17 tahun waktu itu) mencetak rekor sebagai juara termuda sepanjang riwayat POR Asia Tenggara.
Masa keemasan PELTI mencatat kcberhasilan lain. Di Federasi Cup di Montreal, Kanada, regu putri kita yang tcrdiri dari Suzanna Anggarkusuma, Yayuk Basuki, dan Waya Walalangi, berhasil menempatkan diri di babak perempat final. Sukses ini mcnghasilkan jatah "tiket" untuk satu pemain di cabang tennis Olimpiade 1988 di Seoul, Korea Selatan.
Tepatnya sistem pembinaan, melahirkan prestasi yang sangat menggembirakan di kelompok yunior. Dalarn Grand Slam Tour Fund yang mengikutsertakan Yayuk Basuki, Waya Walalangi, Dede Sukendar di mama rantai kejuaraan Roland Garros (Prancis Terbuka), Yayuk Basuki berhasil mencapai perdelapan final. Kemudian, di Kejuaraan Yunior Belgia (Grup 2 ITF), Yayuk berhasil menjadi juara tunggal putri. Tampil berpasangan dengan Jennifer Saberon (Filipina) di ganda putri, gadis hitam manis ini mempecundangi petennis Brasilia dan pasangan Belanda.
Masih di Roland Garros, pada babak ketiga, giliran Yayuk dipecundangi Brenda Shulutz dari Belanda, dengan angka 1-6, 7-6, 3-6. Padahal di babak kedua, petennis remaja Indonesia ini rnelabrak petennis Belgia, Sandra Wasserman - yang berhasil mencapai babak kedua kelompok senior di turnamen yang sama - 7-6 (7 . 2), 6-1. Sedang dalam kejuaraan di Belgia, Yayuk menjuarai nomor tunggal putra, setelah menundukkan petennis Brasilia, Roberta Caldas, 7-6 (7-I). 6 . 3. Dalam nomor ganda putri, Yayuk bersama pasangannya menaklukkan Ivonne Gruben/Bettina Sonneveld dari Belanda, 7 . 6 (9-7), 6-I.
Sasaran tim yunior Indonesia selanjutnya diarahkan ke Wimbledon, yang lama menjadi kiblat para petennis dunia. Yayuk Basuki, yang terkirim, di babak pertama mengalahkan petennis utama Amerika Nicola Arent - ia diunggulkan di tempat ke-l0 - 7-6 (9-7), 6-1. Sayang, pada penampilan berikutnya, Yayuk terjegal petennis muda dari Uni Soviet - tapi berperingkat dunia WITA dan berhasil maju ke tumamen Wimbledon sampai babak 16 besar - Natalia Zvereva, 16 tahun, 4-6, 6-7 (3-7). Zvereva kemudian takluk di kaki Gabriel Sabatini, lewat pertarungan tiga set.
Prestasi lumayan diperlihatkan pula oleh wakil Indonesia di b agian putra, Dede Suhendar. la memang hanya sampai di babak kedua - untuk dikalahkan petennis Selandia Baru, Bret Steven, yang menempati unggulan ke-I2 - tapi di babak pertama berjaya menghempaskan Danny Sapsford dari Inggris, 4-6, 7-6 (7-3), 7-2.
Akhirnya, dari merekam sepanjang 52 scjarah PELTI, dapat disimpulkan adanya gejala kesenjangan prestasi. Ini dilihat dari jenjang prestasi pertennisan, baik di tingkat Asia, Asia Tenggara, maupun pada tingkat nasional kita sendiri. Kita menyaksikan, dalam kurun relatif lama, 10 tahun, Indonesia masih mengandalkan para pemain yang sama. Apa yang menjadi penyebabnya? Kalau diamati, kesenjangan prestasi itu sebagai akihat kurangnya sarana bagi peningkatan prestasi itu sendiri, yaitu "arena kejuaraan" . Dalam menetapkan arena kejuaraan ini, menarik pengalaman dari masa-masa lalu, hendaknya di masa datang tidak asal-asalan, dan tidak hanya pada tingkat nasional, namun terlebih-lebih di tingkat internasional. Dengan cara inilah diharapkan prestasi petennis Indonesia, yang senior maupun yunior, akan tertarik ke atas.
Dalam memperingati hari ulang tahun PELTI ke-52 kali ini, patut dicatat sejumlah nama yang langsung tak langsung berjasa di dalam pendirian maupun pengembangan induk organisasi tennis Indonesia itu. Tidak mungkin menyebut satu persatu orang-orang yang berjasa bagi PELTI itu, Namun di belakang nama-nama yang telah tersebut di sini tentu masih bisa ditamhahkan nama-nama mereka yang dianggap berjasa.
Di antara nama-nama yang patut disusulkan adalah: Dr. Ibnu Sutowo, Dr. Suwondho, Brig. Jen. Rusli, Andries Pangemanan, Brig. Jen. Wonosewojo, Dr. Affandi, Rusli, Suhandi, Komodor Udara Aburachmat, dan pada daftar ini juga masih mungkin diurutkan beberapa nama yang lain. Mereka semua, yang namanya tersebutkan atau yang tidak, dengan caranya sendiri telah berjasa bagi PELTI dan perkembangan tennis di Indonesia. Hanya Tuhan yang mampu memberi imbalan yang adil dan setimpal.






